Pasca Tsunami, Polwan berikan Trauma Healing kepada anak anak pengungsi

Kalianda, WARTA SELATAN
Pasca musibah Gelombang Tsunami Lampung Selatan yang terjadi, Sabtu (22/12) lalu para Pokwan melakukan pendekatan untuk melakukan pemulihan kejiwaan (Trauma Healing) kepada para pengungsi korban bencana Tsunami Lampung Selatan.

Setelah bencana Tsunami berlalu, masyarakat yang menjadi korbam bencana dilanda keputusasaan, rasa tak berdaya dan depresi menjadi problem serius yang dialami oleh para pengungsi di Lampung Selatan.

Gangguan kejiwaan pasca-bencana adalah hal lazim di tengah bencana dan sesudahnya, Intervensi dibutuhkan apabila stres tak kunjung lenyap ketika bencana sudah berlalu.

Hal ini yang kini sedang dilakukan oleh jajaran Satuan Polwan khususnya Polwan Lampung Selatan dengan melakukan Pemulihan Trauma, atau populer disebut Trauma Healing.

Para Polwan Lampung Selatan memberikan bantuan berupa dukungan psikososial bagi para korban bencana, yakni dengan melakukan pendekatan kepada para korban yang mengalami gangguan kejiwaan, stress Pasca Trauma yang lama lama akan pulih.

Kapolres Lampung Selatan AKBP Muhamad Syarhan SIK MH, Jumat (28/12) kepada media ini mengatakan bahwa pasca terjadinya musibah bemcana Tsunami yang terjadi, Sabtu (22/12) lalu, pihaknya melakukan pemulihan kejiwaan (Tauma Healing) yang dilakukan oleh anggota Polwan dipengungsian yang ada di Lapangan Tennsi Indoor Kalianda.

Selain itu kata mantan Kapolres Pesawaran ini, jajaranya juga melakukan pendekatan lain yang ditempuh yakni adalah pemberian bantuan psikologis awal (Psycholohical First Aid) artibya para para pengungsi /korban bemcana diharapkan untuk mendengarkan tapi tidak banyak bertanya, memberi ruang untuk menyampaikan rasa takut, diberikan edukasi soal informasi bencana atau informasi bantuan dan lainya yang berhubungan dengan situasi yang terjadi saat ini.

Penanganan dampak psikologis terhadap korban dalam konteks bencana alam ditempuh dengan cara memberikan dukungan psikososial, pemulihan trauma (Tauma Healing) .

Selama ini ada anggapan bahwa pemulihan trauma bertujuan untuk melupakan peristiwa traumatik, sementara memori manusia mustahil melupakan peristiwa pahit seperti bencana, oleh sebab itu, melupakan, para korban diajak untuk melepaskan diri dari kungkungan rasa takut jika ingatan akan bencana mungkin suatu cara yang ampuh dalam pemulihan kejiwaanya ” tutup Syarhan kepada media ini.

Ditempat yang sama lanjut Syarhan, pihaknya juga memberikan bantuan berupa susu dan makanan bayi kepada para pengungsi khususnya kepada anak-anak yang ada di pengungsian ” katanya lagi.(ADE/RISTIANA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *