Imbas Covid-19, Pengusaha ayam Potong banyak yang merugi

SIDOMULYO-(wartaselatan.com) Ditengah pemberlakuan pembatasan kegiatan yang melibatkan Khalayak ramai dimasa pandemi covid 19, berdampak lesunya transaksasi jual beli ayam potong (Broiler) juga menurunnya omset penjualan hampir disemua sektor usaha diwilayah Sidomulyo dan sekitarnya, akibat menurunnya daya beli masyarakat.

Bahkan, tidak sedikit pelaku usaha diwilayah tersebut, terpaksa memutar otak dengan beralih profesi usaha, guna mencari penghasilan tambahan dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari hari untuk keluaraganya, ditengah ketidak pastian kapan berakhirnya masa pandemi virus Covid 19 yang sangat berbahaya tersebut.

Yuni(28) salah seorang pedagang ayam Potong (Broiler) warga Desa Sidowaluyo, kecamatan Sidomulyo, mengatakan, semenjak adanya pembatasan kegiatan yang melibatkan kerumunan warga di tengah masa pandemi Covid-19, dirinya terpaksa membatasi serapan ayam jenis broiler dari pihak suplier. Rabu (06/05/2020).

” Biasanya, seperti saat memasuki bulan Januari- Juli serapan ayam Jenis Broiler meningkat tajam ketika memasuki bulan-bulan tersebut . Karena banyaknya kegiatan masyarakat seperti, acara resepsi pernikahan, khitanan dan lain-lain. Adapun untuk sekarang ini semua kegiatan itu sudah ditiadakan. Sehingga, mengakibatkan kurangnya para pembeli,” jelasnya saat di temui dilokasi usahanya,

Sebelum adanya pembatasan kegiatan yang melibatkan banyak orang, setiap harinya ia mengaku mampu menyerap ayam dari pihak distributor mencapai 120 ekor perharinya, untuk memenuhi kebutuhan konsumennya diwilayah Sidomulyo dan sekitarnya.

” Namun, saat ini saya hanya mampu menjual sebanyak 15 ekor ayam dari sebelumnya mencapai 30-40 ekor perharinya. Terpaksa saya harus membatasi serapan ayam dari pihak distributor ,”Imbuhnya.

Di Kondisi itu sambungnya, diperburuk dengan maraknya para pedagang pengecer dadakan menjual ayam jenis serupa dengan harga dibawah pasaran melalui medsos, sehingga merusak harga pasaran ditingkat pengecer.

” Sebelum pandemi Covid-19, saya menjual harga eceran dikisaran Rp. 120 ribu untuk ukuran ayam seberat 4 kilogram lebih perekornya. Tapi semenjak ramainya pengecer ayam parent melalui Media Sosial (Medsos) yang menjual ayam jenis parent dengan bobot yang sama, harganya jauh melampaui harga pasaran, saya terpaksa menjual harga mengikuti trend. Bila tidak maka usaha saya yang geluti selama ini akan merugi akibat sepinya pembeli,” ucapnya.

” Kondisi ini, sangat menyulitkan bagi kami pengecer, dalam mengelola modal usaha agar tidak merugi. Karena, dalam hal ini kami yang paling sangat merasakan dampaknya,” Ujarnya.

Ditengah ketidak pastian pendapatan usaha tersebut, dirinya bersama suaminya Sariman (36), terpaksa menyambi usaha menjadi petani di sawah, demi memenuhi kebutuhan keluarganya.

” Sementara, usaha penjualan ayam broiler sedang lesu, untuk menunjang penghasilan keluarga, saya dan suami kini menggarap sawah milik orang tua. Besar harapan usaha ini dapat memenuhi kebutuhan kami sekeluarga, serta berdo’a semoga wabah Covid-19 segera berakhir, agar kami dapat menjalankan usaha dengan normal,” pungkasnya. (Ade)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *